Rabu, 15 Februari 2017

Cemburu? Haruskah? #IM1

Ini adalah Minggu pertama di mana aku mengakui bahwa Ia mencuri hatiku. Namun haruskah rasa cemburu ini hadir?
Bait-bait puisi tercipta saat aku tak mampu lagi menahan rasa padanya. Tak mampu ku katakan bahkan hanya satu katapun tentang perasaanku. Aku terlalu malu dan mungkin sedikit takut bahwa rasa ini kemudian tak terbalas. Bahwa rasa dekat yang selama ini kurasa ternyata hanya terbungkus pertemanan saja. Bahwa memang bukan aku yang ada di hatinya. Ah, aku terlalu khawatir.

Namun, bukan hanya diriku saja yang menyadarinya. Semua orang sadar bahwa ia dekat denganku dan ia pun dekat dengan wanita itu. Sebut saja Maya namanya.

Tak bisa dikatakan bahwa ia mempermainkan perasaan kami. Karena tak ada satupun ungkapan serius yang keluar dari chat pribadi atau dari obrolan kami. Tak satupun. Aku hanya menyadari bahwa beberapa saat ia memperhatikanku, bahwa kami menghabiskan banyak waktu bersama, berdua, meski tidak dalam konteks romantis. Bahwa kami berfoto bersama. Namun, memang mungkin aku sedikit berlebihan. Segala kebersamaan itu hanya kehangatan sebuah pertemanan. Bahkan hingga saat ini, semua nampak dalam bingkai pertemanan. Tak ada yang spesial.

Namun, teman wanita kami yang cantik itu memang mengambil perhatian, tidak hanya aku ataupun Isman, namun semua peserta pun sepertinya tahu. Bagaimana Isman menyuapi dia di malam itu, di mana ia membawakan tas Maya, di mana di beberapa moment ia ada di samping Maya dan entahlah apa lagi di balik semua isu itu. Namun, memang yang menghabiskan waktu bersamanya lebih lama, adalah diriku.

Diriku, yang entah mencuri hatinya atau hanya menjadi daftar teman biasa seperti yang lainnya.

Aku cemburu, namun haruskah?

Apakah aku, akan kembali dihantui rasa cemburu dan takut kehilangan dia yang membuatku merasakan getaran hati?
Apakah aku akan kembali dihantui rasa cemburu dan men stalk semua sosial media yang biasa dilakukan banyak wanita pada umumnya?
Apakah aku kemudian akan banyak diam dan membayangkan hal-hal buruk seakan mendramatisir keadaan bak drama Korea yang populer itu?

Ah, sayang sekali masa-masa itu sudah berlalu. Lebih tepatnya, aku bersyukur telah melewati masa-masa 'jahiliyah' tersebut. Di mana itu bukan gaya wanita yang hampir matang di usia muda sepertiku, iya, aku.

Sedikit, hatiku agak terusik dengan kedekatan mereka. Ada sedikit rasa getir yang sulit sekali dijelaskan. Namun aku tak menjebak hatiku dalam dramatisasi situasi seperti pada umumnya.

Tak satupun chat kukirim padanya. Tak satupun komentar kulemparkan pada obrolan grup whatsapp tersebut. Bahkan kegetiran itu hanya terasa beberapa detik. Aku mulai berdamai dengan hatiku, mulai menulis tulisan ini agar aku semakin mengerti dengan kondisi psikologis diriku. Menarik napas dan tersenyum lega.

Aku ingin bahagia dan damai. Maka dari itu, setiap bibit yang berpotensi menjadi hal buruk, harus kuhilangkan dari ia masih sangat kecil. Termasuk rasa cemburu yang tidak masuk logika wanita yang insha Allah diberkahi kecerdasan berpikir ini.

Cemburu karena tak memilikinya? Bahkan kenyataannya ia adalah milik Allah. Bukan milik aku ataupun Maya, bukan. Bahkan bukan milik orang tua nya. Ia berjodoh dengan siapapun, itu kuasa Allah yang sampai sekarang belum terlihat jelas. Kalaupun keindahannya mencuri perhatian, Allah lah yang memiliki keindahan itu.

Lantas, apa yang perlu dikhawatirkan saat ini? bukannya khawatir dan pendramatisasian itu hanya akan membuat kita tinggal di sebuah kotak yang sempit yang bahkan dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang berjalan dalam perjuangan hidup? sebuah perjuangan yang saat ini kuupayakan dengan sepenuh jiwa. Untuk kebahagiaan akhirat dan orang-orang sekitarku? Tentu saja, aku tak akan menggadaikan produktifitas dan kualitas perjuanganku hanya karena perasaan.

Lagi, kita memiliki ia Sang Pemilik Cinta dan berkuasa untuk membolak balikkan setiap hati manusia. Lantas, mengapa harus cemburu kalau ada Ia Yang Maha Kuasa? Kalau kita yakin bahwa setiap ketaatan kita akan diganjar dengan pemberian terbaik dari sisi Nya, kalau kita yakin bahwa jodoh kita sudah tertulis dengan kuasa Nya?

Aku selalu yakin bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena sejatinya Ia lebih tahu karena ia Yang Maha Mengetahui. Sedangkan kita tidak. Lalu, kalau hati sudah dipenuhi rasa berserah untuk menerima skenario selanjutnya, tidak perlu resah dan gelisah atas kehendak Nya.

Aku bersyukur karena dengan hadirnya rasa ini pada Nya, membuatku sadar untuk lebih bersandar pada Allah. Aku tak pernah merasa sedekat ini dengan Nya. Karena itu, bagaimanapun cerita ni berakhir, kelak akan kusampaikan ucapan terima kasihku pada Nya. Karena keindahannya, aku berusaha mengindahkan diriku.

Memantaskan diriku agar pantas bersanding dengannya atau siapapun yang Ia pilihkan untukku.
Bukan jatuh hati untuk merasa cemburu, dan menjadi korban hati.

Karena Allah tau selera kita :)

18.01
Menjelang maghrib di cuaca dingin setelah hujan lagi hari ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar